Selasa, 27 Desember 2011

Balita Dilindas Mobil Sebanyak Dua Kali, Orang-Orang Tidak Ada yang Menolong

Rekaman video di China tentang seorang gadis dua tahun yang ditabrak mobil van dan diabaikan orang-orang yang lewat telah memicu kemarahan setelah diposting di internet. Gambar video tentang insiden di kota Foshan, Provinsi Guangdong, itu memperlihatkan gadis itu ditabrak sebuah mobil van di sebuah jalan sempit. Bukannya berhenti, van itu hanya sempat melambat, lalu kembali melaju. Ban belakangnya kembali menggilas gadis malang itu. Bocah tersebut dibiarkan berlumuran darah di tengah jalan.


Sejumlah pelintas, menurut BBC, 18 orang, baik yang berjalan kaki, bersepeda, maupun bermobil, membiarkan gadis bernama Yueyue yang menderita luka yang parah itu tergeletak. Mereka sama sekali tak tergerak untuk menolongnya. Tak berakhir di situ, sebuah truk yang masuk ke jalan itu juga melindas bocah yang sudah terkapar itu.


Seorang perempuan, yang merupakan orang ke-19 yang lewat, akhirnya menarik bocah malang itu ke sisi jalan sebelum ibunya, seorang pekerja migran di kota itu, berlari ke lokasi kejadian untuk mengangkat anak tersebut.


Bocah itu, yang di media online disebut bernama Yue Yuem, berada dalam kondisi koma di rumah sakit. Demikian menurut laporan kantor berita Xinhua menyusul insiden pada 13 Oktober itu. China Daily, harian resmi negara China yang berbahasa Inggris, mengatakan gadis itu dinyatakan telah mengalami "mati otak" dan bisa meninggal kapan saja.


Dua sopir yang melindas gadis itu telah ditangkap. Namun, para pengguna internet telah membanjiri microblogs. Mereka mengecam sikap apatis orang-orang yang membiarkan anak itu sekarat.


Booming ekonomi China dan kesenjangan yang menganga antara yang kaya dan miskin telah membuat perubahan nilai-nilai sosial menjadi topik perdebatan. Sejumlah orang meratapi apa yang mereka lihat bahwa materialisme telah menggantikan moral.


Ayah Yueyue, Wang, kepada televisi China mengatakan, “Yueyue sangat menyenangkan. Jika saya bertengkar dengan ibunya dan jika ibunya menangis, dia akan memberi tahu kami untuk tidak menangis, ia selalu berusaha untuk menghibur kami. Saya hanya berharap anak saya akan sadar dan memanggil saya Papa lagi.”


Di layanan microblog China, Sina Weibo, seorang pengguna menyebut insiden itu “Memalukan orang-orang China”. Pengguna lain, yang bernama Xiaozhong001, menulis, “Sesungguhnya, ada apa dengan masyarakat kita? Saya melihat kejadian ini dan hati saya jadi beku. Setiap orang perlu melakukan pencarian jiwa untuk mengakhiri sikap tak acuh semacam ini.”


Banyak orang di China jadi ragu-ragu untuk membantu orang yang tampaknya sedang dalam kesusahan karena khawatir mereka akan disalahkan. Dalam sejumlah kasus yang mendapat perhatian, orang Samaria yang baik justru harus membayar denda besar kepada individu yang mereka ingin bantu.


Sumber : FOSHAN, KOMPAS.com

Pengemudi Truk Melindas Bocah DUA KALI Untuk Memastikan Ia Benar-benar Tewas

Kejadian tragis yang menimpa seorang gadis malang asal China yaitu Wang Yue tentunya masih segar di ingatan kita semua. Namun seminggu setelah setelah kejadian horor tersebut, insiden yang serupa kembali terjadi di China, dan kali ini korbannya adalah seorang bocah laki-laki.


Ibu Maoke Xiong duduk di sebelah mobil truk yang menabrak putranya sampai tewas



Seorang pengemudi truk menabrak seorang bocah laki-laki berusia lima tahun, dan kemudian melindasnya kembali guna memastikan sang bocah tersebut telah benar-benar tewas, dalam upaya menghindari membayar tagihan rumah sakit untuk sang anak.


Insiden mengerikan ini terjadi di Luzhou, Cina barat, ketika sopir Ao Yong menabrak bocah laki-laki bernama Maoke Xiong, saat ia sementara berjalan kaki untuk menuju ke sekolah.


Aku melihat truk tersebut mundur sedikit dan kemudian bergerak maju lagi. Xiong kemudian tergilas dalam roda dan truk terus maju sejauh sepuluh meter.” tutur seorang saksi mata Shifen Zhang.


Sang pengemudi diduga melindas Xiong lebih dari satu kali.



Sementara saksi lain yang lewat di tempat kejadian mengatakan bahwa sang sopir melompat keluar truknya setelah menabrak anak itu, dan langsung bertanya berapa banyak yang harus ia bayar.


Menurut pernyataan pihak kepolisian setemat, Yong (35) pengemudi truk dari Luxian, berdebat dengan keluarga sang bocah tentang biaya selama tujuh jam.


Setelah insiden tersebut, Yong membantah sengaja menabrak kembali anak tersebut untuk membunuhnya. Bahkan, polisi dan staf pemerintah bersikeras Xiong meninggal akibat benturan saat tabrakan.


Menurut penyelidikan, polisi memutuskan bahwa Yong adalah orang pertama yang memanggil pihak berwajib setelah truknya menabrak seorang anak di desa Yunfeng, di Luzhou, Provinsi Sichuan. Mereka mengatakan tubuhnya tidak langsung dipindahkan karena penduduk desa yang marah menuntut kompensasi instan dari sang pengemudi.


Diketahui, memberikan kompensasi jika korban kecelakaan meninggal dilihat oleh banyak orang Cina sebagai cara yang lebih murah, daripada harus membayar biaya untuk perawatan rumah sakit yang panjang.


Sumber : dailymail

Seorang Gadis Berusia Enam Tahun Meninggal Setelah Terperangkap Di Dalam Microwave Kuno Besar Yang Berada Di Halaman Belakang Rumahnya

Rebecca Maria Herrera dari San Antonio menghilang selama beberapa jam pada Sabtu, dan polisi serta puluhan relawan menghabiskan berjam-jam mencari sang gadis cilik tersebut sampai dia ditemukan dalam microwave.


Kepolisian San Antonio percaya ia masuk kedalam microwave dan terjebak. Dan mengatakan mereka sedang menyelidiki kasus kematian ini sebagai kecelakaan.


Rebecca adalah putri dari John Herrera, seorang perwira polisi patroli sepeda di Kepolisian San Antonio Polisi, dan saat kejadian tersebut sedang berada di Florida.


Stephanie Almendarez dan putrinya, yang tinggal di seberang jalan, menahan air mata saat mereka menyaksikan penyelidik memasuki rumah Rebecca.

Ibu dari lima anak tersebut berkata: “Aku mendengar seseorang berteriak, “Saya menemukan dia,” dan kemudian aku mendengarnya menangis. Saya terkejut. Saya pikir gadis tersebut tidak apa-apa. Aku belum pernah melihat hal seperti ini.”


Polisi mengatakan bahwa Rebecca yang berbadan mungil tersebut suka bersembunyi, dan mereka percaya bahwa ia merangkak dan terjebak dalam microwave ketika pintu tertutup.


Sumber : dailymail

Inilah Kata-kata Terakhir Qaddafi Sebelum Peluru Tembus Kepalanya

Makin jelas sebab kematian pemimpin Libya, Muammar Qaddafi yang ditangkap hidup-hidup namun meninggal dengan berlumuran darah beberapa menit kemudian.


Serangkaian gambar yang diambil melalui ponsel menunjukkan, dia ditembak dengan jarak sangat dekat, beberapa centimeter saja.



Sesaat sebelum menemui ajal, Qaddafi bertanya terbata-bata, “Apa yang kamu lakukan? Ini tidak diperbolehkan dalam hukum Islam. Apa yang Anda lakukan adalah dilarang.” ujarnya.


Dengan suara tercekat, ia mengulangi, “Apa yang Anda lakukan adalah salah, nak. Apakah Anda tahu apa yang benar atau salah?”


Para pemuda berteriak “Muammar, Anda anjing!”


Saat itu, darah mengalir di sisi kiri kepala, leher, dan bahunya.


Gaddafi bilang kepada orang-orang muda itu untuk bersabar, dan berkata “Apa yang terjadi?” saat ia menyeka darah segar dari pelipisnya dan melirik telapak tangannya.


Seorang anak muda lainnya kemudian datang membawa boot dan berteriak, “Ini adalah sepatu Muammar! Ini adalah sepatu Muammar! Kemenangan! Kemenangan!”


Buat dia hidup, buat dia tetap hidup!” seseorang berteriak. “Ini untuk Misrata, Anda anjing,” kata seorang pria yang menampar dia.


Pemberontak lain berteriak, “Allah Mahabesar. Allah Mahakuasa.”


Dan saat Qaddafi memohon belas kasihan, seorang pejuang mengatakan, “Diam, kau anjing!”


Qaddafi juga terdengar dalam satu video mengatakan “Allah melarang ini” beberapa kali. Ia ditampar di atas kepalanya.


Gambar selanjutnya beberapa saat kemudian menunjukkan Qaddafi tergeletak di tanah. Orang-orang bersorak.


Sopir ambulans, Ali Jaghdoun, menyatakan Qaddafi sudah meninggal ketika ia mengangkatnya dan membawa jenazahnya ke kota Misrata. “Aku tidak mencoba untuk memberikan pertolongan kembali, karena ia sudah mati,” ujarnya.

Jumat, 16 Desember 2011

Rahasia Al Fathihah

Allah Maha suci dan Maha Tinggi berfirman: "Aku telah membagi al Fathihah menjadi dua bagian, untuk-Ku dan untuk hambaKu dan hambaKu akan mendapatkan bagian dari permohonan yang diucapkannya."


Rasulullah bersabda: "Bacalah! Bila hamba membaca alhamdulillaahirobbil'aalamiin, Allah ta'alaa menyahut:"HambaKu memujiKu".

Bila hamba membaca arrahmaanirrahiim, Allah ta'alaa menyahut: "HambaKu menyanjungKu".

Bila hamba membaca maaliki yaumid diin, Allah ta'alaa menyahut: "HambaKu memuliakanKu".

Bila hamba membaca iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'iin, Allah ta'alaa menyahut: "Ini bagianKu dan bagian hambaKu dan hambaKu akan mendapatkan apa yang dimintanya".

Bila hamba membaca ihdinash shiraathal mustaqiim, shiraathal ladziina an'amta 'alaihim ghairil maghdhuubi 'alaihim walad dhaaallliiin, Allah ta'alaa menyahut:”Itu adalah hak hambaKu, dia akan mendapatkan apa yang dimintanya".

Mengenal Lebih Dekat Al Habib Abdullah bin Ali Al Haddad


Menghormati dan meneladani seorang yang berilmu tinggi seperti ulama’ atau wali merupakan suatu perbuatan yang baik, karena ulama’ dan auliya’ itu adalah pewaris para nabi. Dalam salah satu hadisnya, Rasulullah SAW bersabda, “Para Ulama’ adalah Pewaris para Nabi.” (al Hadits)

Di zaman yang begitu modern ini kita sering disibukkan dengan kegiatan-kegiatan duniawi yang terkadang membuat kita sedikit terlupa dengan kegiatan ukhrowi. Kali ini kami akan mengajak para pembaca sekalian sejenak untuk sedikit membuka mata dan hati untuk mengikuti sekilas riwayat hidup salah seorang ulama’ besar waliyullah, di mana sebagian besar orang sudah melupakannya dan mungkin ada juga yang tidak tahu. Beliau adalah Al Habib Al ‘Allamah Al ‘Arif billah Abdullah bin Ali Al Haddad.

KELAHIRAN DAN NASAB BELIAU

Habib Abdullah bin Ali Al Haddad dilahirkan pada tanggal 4 Shafar 1261 H atau sekitar 12 Pebruari 1840 M di kota Tarim, Hadramaut, sebuah kota tempat tinggal Al Imam Al Haddad(pengarang kitab Rothibul Haddad), yang juga dikenal sebagai tempat kelahiran para Auliya’ Qutb. Nasab beliau bersambung kepada Rasulullah SAW.

Abdullah bin Ali bin Hasan bin Husain bin Ahmad bin Hasan bin Abdullah bin Alwi bin Muhammad bin Ahmad bin Abdullah bin Muhammad bin Alwi bin Ahmad bin Abi Bakr bin Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin Ahmad bin Abdurrahman bin Alwi bin Muhammad bin Ali bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Abdullah bin Ahmad Al Muhajir bin Isa Ar Rumi bin Muhammad An Nagib bin Ali Al ‘Uraidhi bin Ja’far Shadiq bin Muhammad Al Bagir bin Ali Zainal Abidin bin Husain Bin Ali bin Abi Thalib/Sayyidah Fatimah Az Zahra binti Rasulullah SAW.

PENDIDIKAN DAN PERJALANANNYA.

Habib Abdullah diasuh dan dididik dalam keluarga yang di dalamnya tercium semerbak harum kenabian, kewalian,dan keilmuan. Sejak kecil ayahnya sendiri, yaitu Al ‘Allamah Al Habib Ali bin Hasan Al Haddad yang memberikan pendidikan terutama dalam menghafal Al Quran, sehingga pola fikirnya terarah menurut bimbingan Al Quran.

Dalam perjalanannya menuntut ilmu di tarim, beliau sempat belajar beberapa cabang ilmu dari para ulama’ terkenal seperti mufti Al Habib Al ‘Allamah Abdurrahman Al Masyhur(pengarang kitab Bughyatul Musytarsyidin). Di samping itu beliau juga belajar kepada Al Habib Umar bin Hasan Al Haddad di Ghurfah, Al Habib Idrus bin Umar Al Habsyi di Siwun, serta Al Habib Muhsin bin Alwi Assegaf dan Al Habib Muhammad bin Ibrahim Bilfaqih. Dari guru-gurunya itulah beliau memperoleh ilmu tafsir, foqh, hadits, dll.

Di samping itu, beliau juga banyak memperoleh ijazah dan pengakuan dari tokoh-tokoh ulama’ serta ahli sufi di zamannya sebagai bukti kemahiran dalam ilmu syari’at dan hakikat. Tasawuf di kalangan Al Alawiyyin di Hadramaut tidak terikat pada tarekat tertentu, melainkan bertumpu pada ibadah, dzikrullah, serta sunnah Rasulullah SAW yang digunakan sebagai amal serta perjalanan hidup sehari-hari dengan penuh keikhlasan serta ridlo kepada Allah Azza Wa Jalla. Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad yang sangat terkenal juga disebut sebagai tarekat Haddadiyah, sehingga diakui sebagai tokoh sufi terkemuka dari Mursyid Thariqah Al Haddadiyah Al Alawiyah. Oleh karena itu, Habib Abdullah menjadikan kitab-kitab Al ‘Allamah Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad sebagai bacaan wajib dan harus dihafal oleh beliau.

Pada tahun 1281 H/1860 M beliau meninggalkan kampung halamannya menuju ke kota Dlo’an untuk memperluas ilmu pengetahuannya dengan belajar ke beberapa ulama’ dan berziarah ke makam ulama’ seperti As Syeikh Said bin Isa Al Amudi. Kemudian beliau melanjutkan perjalanannya mencari ilmu ke kota Gidun dengan mempelajari beberapa cabang ilmu kepada Al Habib Thahir bin Umar Al Haddad dan As Syeikh Muhammad bin Abdullah Basawdan. Di hadapan mereka, beliau membaca kitab Manhajut Thalibin karangan Imam Nawawi dan mendapatkan ijazah beberapa cabang ilmu seperti ilmu logika, nash, periwayatan, aqidah dan ushul.

Pada tahun 1291 H beliau menikah dengan Syarifah Aisyah binti Hamid bin Alwi Al Hamid di tarim. Dari perkawinannya itu beliau dikaruniai 5 orang anak, yaitu Alwiyah, Nur, Fatimah, Muznah, dan Hasan.

Pada tahun 1294 H/1873 M beliau pergi ke kota Guairoh dan bertemu dengan Al Habib Al Allamah AL Arif billah Ahmad bin Muhammad Al Muhdlor(ayah Habib Muhammad bin Ahmad Al Muhdlor, Bondowoso). Habib Abdullah belajar beberapa cabang ilmu yang tinggi dan mendapat ijazah dari beliau. Dalam satu muqoddimah ijazahnya disebutkan, “Aku memberikan ijazah kepada keturunan Al Qutb Al Ghouts Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad, seorang putra yang sungguh-sungguh ahli ibadah, tampak di wajahnya cahaya yang bersinar cahaya ulama’ salaf, da’i akan menggantikan kedudukan salaf pendahulunya, dan aku anggap dia sebagai anakku.”

Pada tahun 1295 H/1874 M beliau harus mengerjakan rukun Islam yang ke lima yaitu ibadah haji ke baitullah dan berziarah ke makam Rasulullah SAW. Selama di mekkah beliau tinggal di rumah Al Mufti Al Habib Muhammad bin Husain Al Habsyi(seorang ulama’ besar, ayah pengarang kitab Simtud Duror, Al Habib Al Imam Al Allamah Ali bin Muhammad Al Habsyi). Di Jarwal beliau menyempatkan diri untuk mempelajari ilmu-ilmu lain seperti ilmu nahwu, aruld, qowaid, mantiq, dll. Selain itu beliau mendapatkan ijazah dari Sayyid Ahmad Zaini Dahlan. Selanjutnya beliau menuju kota Madinah Al Mukarromah dan tinggal di sana selama 4 bulan. Di Madinah beliau menemui Al Syeikh Muhammad Abd. Mukti bin Muhammad Al Azb(seorang faqih serta pakar bahasa arab yang juga pengarang kitab maulid Azb. Beliau juga meminta ijazah kepadanya tetapi tidak memberikannya sebelum diberi ijazah terlebih dahulu oleh Habib Abdullah. Maka Habib Abdullah memberikannya ijazah berupa wirid-wirid karangan Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad sebelum Syekh Azb akhirnya memberikan ijazah kepada beliau. Kemuliaan Al Habib Abdullah Al Haddad ditampakkan ketika beliau ditemui oleh Habib Umar Syato(Mufti Haromain). Diceritakan bahwa Sayyid Umar menerima ru’ya dari Nabi dan diperintahkan agar berziarah kepada Habib Abdullah bin Ali Al Haddad. “Dia adalah cucuku yang sebenarnya”, kata Nabi. Setelah berjumpa dengan Habib Abdullah bin Ali Al Haddad, Sayyid Umar Syato menciumi lutut dan kaki serta meminta maaf kepadanya karena tidak mengetahui kedudukan Habib Abdullah jika tidak diberitahukan oleh Nabi.

Pada tahun 1297 H/1879 M beliau berda’wah ke tanah melayu. Mula-mula ke Singapura, kemudian menuju Johor. Di Johor beliau memperoleh sahabat yaitu Syed Salim bin Thaha Al Habsyi dan Sultan Abu Bakar bin Ibrahim(Sultan Johor saat itu). Pada waktu peresmian istana Sultan Johor ini, datanglah Sultan Ahmad dari negeri Pahang yang kemudian mencari dan meminta Habib Abdullah untuk menjadi mufti di negerinya, namun ditolak oleh beliau dengan baik dan bersahabat. Habib Abdullah tinggal di Johor selama 4 tahun dan menikah dengan keluarga Al Syahab, namun istrinya wafat tak lama setelah menikah.

Beliau adalah orang yang tidak suka difoto atau dilukis. Beberapa kali dicoba untuk difoto tanpa sepengetahuan beliau, tetapi foto tersebut tidak jadi/rusak. Beliau bersifat tawadlu’, hal ini tampak sekali dalam nasehat dan tulisan yang beliau karang. Di mana beliau selalu menekankan kepada murid-muridnya untuk tidak takabur, sombong dan riya’, karena hal serupa itu adalah sifat setan.

PERJALANAN BELIAU KE INDONESIA

Setelah 4 tahun di Johor, beliau meneruskan pengembaraan da’wahnya ke pulau Jawa, Indonesia. Mula-mula tiba di Betawi, yang ketika itu masih dalam pemerintahan Hindia Belanda. Tak lama di Betawi beliau lalu meneruskan ke Bogor, Solo, dan Surabaya, tetapi semua kota di Indonesia yang disinggahi dan dilaluinya tidak dapat menarik hati beliau untuk menetap di tempat tersebut walaupun diajak oleh penduduk setempat. Akhirnya pada bulan Syawal 1301 H/1903 M tinggallah beliau di kota Bangil, Jawa timur. Di sinilah akhirnya beliau memutuskan untuk tinggal dan berda’wah Islam. Kemudian tanggal 27 Jumadil Awwal 1302 H/1903 M beliau menikah dengan Syarifah Maryam binti Ali Al Aydrus(seorang istri yang sangat taat beribadah kepada Allah, bebakti kepada suaminya dan selalu membasahi lidahnya dengan berdzikir kepada Allah SWT serta bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW). Dalam pernikahannya, beliau dikaruniai 4 putri dan 6 putra, diantara putra beliau adalah Muhammad, Hamid, Ali, dan Umar. Di rumahnya, beliau membuka majlis ta’lim di masjid Kalianyar. Pekerjaan beliau adalah berdagang minyak wangi, ma’jun dll. Beliau tidak menjual kecuali dengan kontan. Beliau mengatakan, “Saya tidak ingin menyibukkan pikiran saya dengan memikirkan hutang para pembeli”. Dan kebiasaannya adalah beliau tidak mau menerima shadaqoh atau hadiah dari seseorang kecuali bila orang itu mengambil sesuatu yang beliau jual. Beliau sangat memperhatikan fakir miskin, sangat pemurah dan selalu menjalin hubungan dengan baik dengan para ulama’.

Murid beliau sangat banyak sekali dan diantara muridnya yang menjadi kyai antara lain Kyai Zayadi, Kyai Husain, Kyai Mustofa, Kyai Asyiq serta Kyai Muhammad Thahir dari Bangku, Singosari dan Kyai Kholil Bangkalan. Di antara para habaib yang menjadi murid beliau adalah Habib Muhammad bin Ahmad Al Muhdlor, Habib Alwi bin Muhammad Al Haddad, Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi serta Habib Ahmad bin Muhsin Al Haddar. Beliau juga pernah member ijazah kepada Syekh Kyai Hasyim Asy’ari Tebuireng, Jombang. Di samping itu, rumah beliau juga terbuka untuk umum, ulama’ dan auliya’, bahkan raja-raja. Kebanyakan dari mereka datang untuk meminta do’a dan berkah, karena mereka yakin bahwa Habib Abdullah adalah orang yang bertaqwa kepada Allah. Diantara para habaib yang menjadi murid beliau adalah Habib Muhammad bin Ahmad Al Muhdor, Habib Alwi bin Muhammad Al Haddad, Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi serta Habib Ahmad bin Muhsin AL Hadar.

KELUHURAN BUDI BELAU

Pada suatu hari datanglah seorang raja dari bugis berziarah dan membawa hadiah untuk beliau berupa satu peti emas yang berisikan kayu gaharu dan sejumlah besar uang. Setelah menerima hadiah itu, beliau bertanya kepada raja tersebut, “Apakah di negerimu ada orang yang berhak menerima sadaqah?”, raja tersebut menjawab , “Ya, ada”. Kemudian Habib Abdullah mengembalikan hadiah tersebut dan memintanya untuk membagi-bagikan hadiah tersebut kepada fakir miskin yang ada di negerinya, seraya beliau mengatakan “Alhamdulillah kami dalam keadaan mampu”, dan menunjukkan kepada raja tersebut kantong yang penuh dengan uang emas. Maka raja tersebut ketakutan dan meminta maaf serta melaksanakan apa yang diminta oleh Habib Abdullah. Beliau sangat cinta kepada fakir miskin sehingga tidak kurang dari 70 rumah menjadi tanggungan beliau setiap bulannya.

Habib Abdullah adalah seorang ulama’ yang tidak pernah segan untuk menyatakan kebenaran kepada siapapun. Habib Abdullah adalah imam di zamannya, yang selalu mengajak umatnya ke jalan Allah dengan dasar islam yang benar. Beliau seorang yang alim dhohir dan batin, syari’at dan hakikat, pewaris ilmu Nabi yang diamalkannya sesuai dengan amalan Nabi.

MUJAHADAH BELIAU

Di masa mudanya, beliau tidak pernah meninggalkan ibadahnya, baik yang wajib maupun yang sunnah. Dalam keadaan bagaimanapun beliau konsisten menjalankan ibadahnya seperti sholat, puasa dll. Pada suatu saat badan beliau menjadi lemah dan kesehatannya terganggu, melihat keadaan seperti ini, sang ibu dengan sangat kasihan dan tidak tega berkata, “Hai anakku, bila engkau ingin kebaikan dan keridloanku, taatilah perintahku”, setelah itu beliau menunaikan sholat fardlu dan rawatib saja. Selama hidupnya beliau hanya makan sebanyak ¼ atau seratus lima puluh gram dalam sehari.

Waktu maghrib sampai isya’ merupakan waktu yang diutamakan beliau untuk membaca Al Qur’an dengan hafalan sembari didampingi oleh putranya Muhammad. Setelah sholat isya’ berjamaah beliau istirahat selama 2 jam, setelah itu beliau manfaatkan untuk muthola’ah sampai jam 12 malam, kemudian beliau beristirahat dan bangun jam 2 malam dilanjutkan dengan mengerjakan sholat dan berkeliling kota Bangil hingga pukul 3 pagi. Sesampainya di rumah, beliau lanjutkan dengan sholat tahajjud hingga menjelang fajar. Kemudian sholat subuh berjamaah bersama keluarganya dan membaca wirid sampai menjelang waktu sholat dhuha. Lalu mengerjakan sholat dhuha sebanyak 8 rakaat. Begitulah amalan beliau yang dikerjakannya setiap malam.

Pada suatu malam ketika keliling kota Bangil, beliau bertemu dengan seorang penjaga malam(hansip). Hansip tersebut bingung dan bertanya, “Kenapa malam-malam begini Habib berkeliling di jalan?”, Habib Abdullah balik bertanya, “Mengapa kalian berada di pos penjagaan ini?”, hansip tersebut menjawab, “Kami ada tugas dari bapak camat”, maka dijawab oleh Habib Abdullah, “Saya mendapat tugas dari penguasa alam semesta ini(Ahkamul Hakimin).”

Penulis manakib ini(Habib Ali bin Abdullah Al Haddad) bercerita, pada suatu malam di rumah seorang miskin tidak ada uang dan makanan, kemudian anak-anaknya menangis kelaparan, tidak selang beberapa lama, tiba-tiba ada orang mengetuk pintu rumahnya, kemudian dibukakanlah pintu untuk tamu tersebut. Ternyata tamu itu adalah Habib Abdullah bin Ali Al Haddad dan memberinya uang untuk membeli makanan. Begitulah perilaku beliau yang sangat agung sebagaimana dicontohkan oleh sahabat Nabi, Umar bin Khottob dan Imam Ali bin Abi Tholib KWH yang sangat perhatian terhadap rakyatnya yang fakir miskin.

KEKERAMATAN BELIAU

Dalam acara rahah(majlis ta’lim) di masjid kalianyar dengan membacakan kitab-kitab karangan Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad, rahah ini dihadiri tidak kurang dari 60 orang. Menjelang maghrib, kopi yang beliau siapkan dari rumah yang ditempatkan di ceret yang agak kecil yang hanya cukup untuk jamaah yang hadir, mulai beliau hidangkan. Tiba-tiba ada kunjungan Habib Muhammad bin Ahmad Al Muhdlor dengan rombongannya sekitar 60 orang. Maka, Habib Abdullah menyuruh Syekh Mubarok Jabli menuangkan kopi dan menghidangkan nya kepada para tamunya. Pada saat menuangkan kopi Syekh Mubarok Jabli yakin bahwa kopinya telah habis(dalam hatinya berkata, “Apa yang harus saya tuangkan karena sudah tidak ada kopi setetespun dalam ceret ini”), kemudian Habib Abdullah mengulangi perintahnya, “Segera engkau tuangkan kopi!”, terpaksa Syekh Mubarok Jabli memegang kaki putranya, Muhammad dan berbisik, “Katakan ceretnya sudah kosong!”, Habib Muhammad menjawab, “Turutilah perintah Al Walid!”, kemudian Syekh Mubarok Jabli menuangkan ceret yang diyakini kosong. Ternyata atas izin Allah dapat memenuhi cangkir yang ada, bahkan lebih.

Dalam suatu kisah yang lain diceritakan, pada suatu hari Residen Pasuruan datang ke Bangil. Setelah sampai di stasiun dan turun dari kereta api, semua orang member hormat dan berdiri, kebetulan saat itu Habib Abdullah Al Haddad berada di stasiun untuk mengantar pamannya Habib Ahmad bin Hasan Al Haddad yang hendak pulang ke Surabaya. Habib Abdullah tetap duduk dan tidak berdiri. Residen Pasuruan tersebut lewat persis di depan Habib Abdullah Al Haddad. Selang beberapa waktu kemudian seorang polisi datang dan memerintahkan beliau datang ke kantor Residen. Beliaupun berangkat dan sampailah di kantor Residen, beliau turun dari dokar, selanjutnya menunggu di ruang depan. Kemudian datang seorang pegawai Residen dalam keadaan ketakutan, seraya berkata, “Sebaiknya Habib kembali saja, sebab Residen dan semua stafnya lari ketakutan setelah melihat Habib datang dengan didampingi dua ekor harimau yang membuka mulutnya hendak menerkam mereka.” Kemudian Habib Abdullah berkata, “Jangan memanggil saya kalau tidak ada keperluan!”. Setelah kejadian itu, Residen meletakkan jabatannya dan tidak keluar rumah sampai akhir hayatnya.

Habib Abdullah bin Ali Al Haddad selain ahli sufi dan da’wah, juga sangat berbakat dalam bidang sya’ir arab. Kumpulan syairnya dibukukan dalam bentuk Diwan(kumpulan syair) yang diberi nama “Al Galaid al Lisan li Ahl al Islam wa al Iman”. Bahkan kakeknya, Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad, Shohibur Rotib al Haddad, dalam qosidahnya Ta’iyah al Kubro yang awal qosidahnya berbunyi, “Ba’atsu lijironil ‘aqiqi takhiyyati wa aauda’tuha rikhas shabakhina habani.” Qasidah ini berjumlah 249 bait. Pada saat yang berbeda, Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad pernah mengatakan, “Kelak qasidah ini akan disempurnakan oleh salah satu anak cucu saya(keturunan beliau) dengan satu bait.” Kemudia tiba saatnya qosidah ini ditambah satu bait oleh Al Habib Abdullah bin Ali Al Haddad(Kramat Bangil) yang berbunyi, “Wa alin wa ashabi wa man kana tabi’an li minha jhim fi kulli khatin wa rikhia”. Hal ini menunjukkan bahwa kekeramatan beliau, Al Habib Abdullah bin Ali Al Haddad jauh hari sebelumnya telah diketahui oleh kakeknya, wali Allah Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad.

Sampai akhirnya pada hari Jum’at sore, tanggal 15 Shafar 1331 H di kota Bangil, beliau dipanggil menghadap sang Khaliq. Beliau dimakamkan dekat mushollahnya yang terletak di daerah Sangeng Kramat, Bangil. Putra beliau yang masih hidup dan dewasa saat wafatnya adalah Habib Muhammad bin Abdullah Al Haddad, Habib Ahmad bin Abdullah Al Haddad, dan Habib Ali bin Abdullah Al Haddad, seorang yang alim dan sabar.

HASIL KARYA BELIAU

  • Sullamuthalib li A’lal Maratib Syarah Ratib Haddad, diterbitkan di Jakarta.
  • Hujjatul Mukminin fi Tawassul bisayyidil Mursalin.
  • Kitab Maulidil Haddad, dalam bentuk nadzam tentang kelahiran Rasulullah SAW.

Demikian tentang sekilas perjalanan hidup Wali Qutub Habib Abdullah bin Ali Al Haddad yang hidupnya selalu dimanfaatkan untuk beribadah dan berda’wah demi kemaslahatan umat. Dan sebagai penghormatan kepada beliau, setiap tanggal 27 Shafar diadakan acara Haul di makam beliau di Sangeng Kramat, Bangil. Semoga Allah memberinya kedudukan yang mulia di sisi-Nya dan menjadikan manfaat serta suri tauladan bagi kita sekalian. Amin Ya Robbal’Alamin.

Sumber : Tulisan Habib Ali bin Abdullah Al Haddad dan Habib Abdul Qodir Jailani bin Salim Al Khirid, serta berbagai sumber.

Sabtu, 22 Oktober 2011

Pemain Sepak Bola Meninggal Di Lapangan

Phil O’Donnell

Kapten tim Motherwell (Skotlandia), 35 tahun, meninggal dunia setelah pingsan saat memperkuat timnya menghadap Dundee United dalam laga di kompetisi Liga Primer Skotlandia, Sabtu 29 Desember 2007 malam di Fir Park.



Antonio Puerta

Bek Sevilla, 22 tahun, meninggal tiga hari sesudah (sempat) pingsan dalam laga La Liga melawan Getafe, Sabtu, 25 Agustus 2007.




Chaswe Nsofwa


27 tahun, mantan striker Zambia, pingsan dan meninggal ketika mengikuti sesi latihan bersama klubnya, Hapoel Beersheba (Israel). Saat itu suhu udara mencapai 40 derajat Celcius.




Hugo Cunha

gelandang Uniao Leiria (Portugal), 28 tahun, Juni 2005.




Miklos Feher




24 tahun, pemain asal Hungaria meninggal pada Januari 2004 saat memperkuat klubnya, Benfica bertanding melawan Vitoria Guimaraes.




Marc-Vivien Foe



28 tahun, meninggal di lapangan saat laga Kameruin vs Kolumbia, Juni 2003.




Samuel Okwaraji



24 tahun, meninggal pada Agustus 1989, sebelum berakhirnya pertandingan babak kualifikasi PD 1990 antara Nigeria vs Angola.




John Thomson



Seorang kiper sepak bola bagi Celtic dan Skotlandia yang meninggal 5 September 1931 pada umur 22 tahun setelah bertabrakan dengan pemain Rangers Sam English pada pertandingan Old Firm di Ibrox.




Emmanuel Ogoli


Salah satu pemain Ocean Boys, Emmanuel Ogoli, meninggal saat timnya masih bertanding me.
Dilaporkan AP, Ogoli sempat terjatuh tak sadarkan diri di menit 39 saat Ocean Boys menghadapi Niger Tornadores di Yenagoa, Utara Nigeria. Sempat mendapat pertolongan pertama di lapangan, Ogoli akhirnya harus dilarikan ke rumah sakit.
Pertandingan pun dilanjutkan, meski Ocean Boys menang 2-0, pemain dan staf pelatih tampak khawatir terburuk di pikiran pemain Ocean Boys. Benar saja, setelah pertandingan usai, mereka mengetahui jika rekannya sudah meninggal.




Francisco Javier Herrezuela Arroyo (Guti)


Francisco Javier Herrezuela Arroyo, atau biasa dipanggil 'Guti', tewas saat bermain untuk timnya, Olimpica Valverdena. Pemain berposisi bek itu terjatuh saat bola bergulir ke luar lapangan. Guti langsung tak sadarkan diri. Tim dokter lokal berusaha menyelamatkan nyawanya. Tapi, ia tewas sebelum tiba di rumah sakit Juan Ramon Jimenez di Huelva. Pertandingan di Grup 1 Divisi Primera Andaluza antara Valverdena dan Arcos, langsung dihentikan setelah insiden tewasnya Guti.




Paulo Sergio de Oliveira Silva (Serginho)

Pemain belakang Sao Caetano, Serginho, meninggal dunia akibat penyempitan pembuluh jantung. Ia pingsan di lapangan dalam pertandingan Brazil melawan Sao Paulo. Pertandingan dihentikan setelah Serginho, dengan nama lengkap Paulo Sergio de Oliveira Silva, diangkut ke rumahsakit pada awal babak kedua dalam pertandingan di stadion Morumbi di Sao Paulo. Tayangan televisi memperlihatkan dokter sedang berusaha menyelamatkan nyawa pemain itu, tetapi tak berhasil.

Sayyid Muhammad Bin Alwi Almaliki Alhasani (1365 - 1425 H)


As-Sayyid Prof. Dr. Muhammad bin Sayyid ‘Alawi bin Sayyid ‘Abbas bin Sayyid ‘Abdul ‘Aziz al-Maliki al-Hasani al-Makki al-Asy’ari asy-Syadzili lahir di kota suci Makkah pada tahun 1365 H/1943 M. Pendidikan pertamanya adalah Madrasah Al-Falah, Makkah, dimana ayah beliau Sayyid Alawi bin Abbas al Maliki sebagai guru agama di sekolah tersebut yang juga merangkap sebagai pengajar di halaqah di Haram Makki, dekat Bab As-salam.

Ayah beliau, Sayyid Alwi bin Abbas Almaliki (kelahiran Makkah th 1328 H), seorang alim ulama terkenal dan ternama di kota Makkah. Disamping aktif dalam berdawah baik di Masjidil Haram atau di kota-kota lainnya yang berdekatan dengan kota Makkah seperti Thoif, Jeddah dll, Sayyid Alwi Almaliki adalah seorang alim ulama yang pertama kali memberikan ceramah di radio Saudi setelah salat Jumat dengan judul “Hadist al-Jumah”.

Begitu pula ayah beliau adalah seorang Qadhi yang selalu di panggil masyarakat Makkah jika ada perayaan pernikahan. Selama menjalankan tugas da’wah, Sayyid Alwi bin Abbas Almaiki selalu membawa kedua putranya Muhammad dan Abbas. Mereka berdua selalu mendampinginya kemana saja ia pergi dan berceramah baik di Makkah atau di luar kota Makkah. Adapun yang meneruskan perjalanan dakwah setelah wafat beliau adalah Sayyid Muhammad bin Alwi Almaliki dan Sayyid Abbas selalu berurusan dengan kemaslahatan kehidupan ayahnya.

Sebagaimana adat para Sadah dan Asyraf ahli Makkah, Sayyid Alwi Almaliki selalu menggunakan pakaian yang berlainan dengan ulama yang berada di sekitarnya. Beliau selalu mengenakan jubbah, serban (imamah) dan burdah atau rida yang biasa digunakan dan dikenakan Asyraf Makkah.

Setelah wafat Sayyid Alwi Almaiki, anaknya Sayyid Muhammad tampil sebagai penerus ayahnya. Dan sebelumnya ia selalu mendapatkan sedikit kesulitan karena ia merasa belum siap untuk menjadi pengganti ayahnya. Maka langkah pertama yang diambil adalah ia melanjutkan studi dan ta’limnya terlebih dahulu. Beliau berangkat ke Kairo dan Universitas al-Azhar Assyarif merupakan pilihanya. Setelah meraih S1, S2 dan S3 dalam fak Hadith dan Ushuluddin beliau kembali ke Makkah untuk melanjutkan perjalanan yang telah di tempuh sang ayah. Disamping mengajar di Masjidi Haram di halaqah, beliau diangkat sebagai dosen di Universitas King Abdul Aziz, Jeddah dan Univesitas Ummul Qur, Makkah bagian ilmu Hadith dan Ushuluddin. Cukup lama beliau menjalankan tugasnya sebagai dosen di dua Universiatas tsb, sampai beliau memutuskan mengundurkan diri dan memilih mengajar di Masjidil Haram sambil menggarap untuk membuka majlis ta’lim dan pondok di rumah beliau.

Adapun pelajaran yang di berikan baik di masjid haram atau di rumah beliau tidak berpoin kepada ilmu tertentu seperti di Universitas. Akan tetapi semua pelajaran yang diberikannya bisa di terima semua masyarakat baik masyarakat awam atau terpelajar, semua bisa menerima dan semua bisa mencicipi apa yang diberikan Sayyid Maliki. Maka dari itu beliau selalu menitik-beratkan untuk membuat rumah yang lebih besar dan bisa menampung lebih dari 500 murid per hari yang biasa dilakukan selepas sholat Maghrib sampai Isya di rumahnya di Hay al Rashifah. Begitu pula setiap bulan Ramadan dan hari raya beliau selalu menerima semua tamu dan muridnya dengan tangan terbuka tanpa memilih golongan atau derajat. Semua di sisinya sama, tamu-tamu dan murid murid, semua mendapat penghargaan yang sama dan semua mencicipi ilmu bersama-sama.

Dari rumah beliau telah keluar ulama-ulama yang membawa panji Rasulallah SAW ke suluruh pelosok permukaan bumi. Di mana negara saja kita dapatkan murid beliau, di India, Pakistan, Afrika, Eropa, Amerika, apa lagi di Asia yang merupakan sebagai orbit dahwah sayid Muhammad Almaliki, ribuan murid-murid beliau yang bukan hanya menjadi kyai dan ulama akan tetapi tidak sedikit dari murid-murid beliau yang masuk ke dalam pemerintahan.

Di samping pengajian dan ta'lim yang rutin di lakukan setiap hari pula beliau telah berusaha mendirikan pondok yang jumlah santrinya tidak sedikit, semua berdatangan dari seluruh penjuru dunia, belajar, makan, dan minum tanpa di pungut biaya sepeser pun bahkan beliau memberikan beasiswa kepada para santri sebagai uang saku. Setelah beberapa tahun belajar, para santri dipulangkan ke negara-negara mereka untuk menyiarkan agama.

Sayid Muhammad Almaliki dikenal sebagai guru, pengajar dan pendidik yang tidak beraliran keras, tidak berlebih-lebihan, dan selalu menerima hiwar dengan hikmah dan mauidhah hasanah thariqahnya.

Dalam kehidupannya beliau selalu bersabar dengan orang-orang yang tidak bersependapat baik dengan pemikirannya atau dengan aliranya. Semua yang berlawanan diterima dengan sabar dan usaha menjawab dengan hikmah dan menklirkan sesuatu masalah dengan kenyataan dan dalil-dalil yang jitu bukan dengan emosi dan pertikaian yang tidak bermutu dan berkesudahan. Beliau tahu persis bahwa kelemahan Islam terdapat pada pertikaian para ulamanya dan ini memang yang di inginkan musuh Islam. Sampai-sampai beliau menerima dengan rela digeser dari kedudukannya baik di Universitas dan ta’lim beliau di masjidil Haram.

Semua ini beliau terima dengan kesabaran dan keikhlasan bahkan beliau selalu menghormati orang orang yang tidak bersependapat dan sealiran dengannya, semasih mereka memiliki pandangan khilaf yang bersumber dari al-Quran dan Sunnah. Adapun ulama yang telah mendapat gemblengan dari Sayyid Muhammad bin Alwi Almaliki, mereka pintar-pintar dan terpelajar. Di samping menguasai bahasa Arab, mereka menguasai ilmu-ilmu agama yang cukup untuk dijadikan marja’ dan reference di negara-negara mereka. Beliau ingin mengangkat derajat dan martabat Muslimin menjadi manusia yang berperilaku baik dalam muamalatnya kepada Allah SWT dan kepada sesama, terhormat dalam perbuatan, tindakan serta pikiran dan perasaannya.

Beliau adalah orang cerdas dan terpelajar, berani dan jujur serta adil dan cinta kasih terhadap sesama. Itulah ajaran utama Sayyid Muhammad bin Alwi Almaliki. Beliau selalu menerima dan menghargai pendapat orang dan menghormati orang yang tidak sealiran dengannya atau tidak searah dengannya.

Karya Tulis Beliau

Di samping tugas beliau sebagai da’i, pengajar, pembibing, dosen, penceramah dan segala bentuk kegiatan yang bermanfaat bagi agama, beliau pula seorang pujangga besar dan penulis unggul. Tidak kurang dari 100 buku yang telah dikarangnya, semuanya beredar di seluruh dunia. Tidak sedikit dari kitab-kitab beliau yang beredar telah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris, Prancis, Urdu, Indonesia dll.

Sayyid Muhammad merupakan seorang penulis prolifik dan telah menghasilkan hampir seratus buah kitab. Beliau telah menulis dalam berbagai topik agama, undang-undang, social serta sejarah, dan kebanyakan bukunya dianggap sebagai rujukan utama dan perintis kepada topik yang dibicarakan dan dicadangkan sebagai buku teks di Institusi-institusi Islam di seluruh dunia. Kita sebutkan sebagian hasilnya dalam berbagai bidang:

  • Aqidah:
  1. Mafahim Yajib an Tusahhah
  2. Manhaj As-salaf fi Fahm An-Nusus
  3. At-Tahzir min at-Takfir
  4. Huwa Allah
  5. Qul Hazihi Sabeeli
  6. Sharh ‘Aqidat al-‘Awam.

  • Tafsir:
  1. Zubdat al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an
  2. Wa Huwa bi al-Ufuq al-‘A’la
  3. Al-Qawa‘id al-Asasiyyah fi ‘Ulum al-Quran
  4. Hawl Khasa’is al-Quran.

  • Hadith:
  1. Al-Manhal al-Latif fi Usul al-Hadith al-Sharif
  2. Al-Qawa‘id al-Asasiyyah fi ‘Ilm Mustalah al-Hadith
  3. Fadl al-Muwatta wa Inayat al-Ummah al-Islamiyyah bihi
  4. Anwar al-Masalik fi al-Muqaranah bayn Riwayat al-Muwatta lil-Imam Malik.

  • Sirah:
  1. Muhammad (Sallallahu Alaihi Wasallam) al-Insan al-Kamil
  2. Tarikh al-Hawadith wa al-Ahwal al-Nabawiyyah
  3. ‘Urf al-Ta’rif bi al-Mawlid al-Sharif
  4. Al-Anwar al-Bahiyyah fi Isra wa M’iraj Khayr al-Bariyyah
  5. Al-Zakha’ir al-Muhammadiyyah
  6. Zikriyat wa Munasabat
  7. Al-Bushra fi Manaqib al-Sayyidah Khadijah al-Kubra.

  • Usul:
  1. Al-Qawa‘id al-Asasiyyah fi Usul al-Fiqh
  2. Sharh Manzumat al-Waraqat fi Usul al-Fiqh
  3. Mafhum al-Tatawwur wa al-Tajdid fi al-Shari‘ah al-Islamiyyah.

  • Fiqh:
  1. Al-Risalah al-Islamiyyah Kamaluha wa Khuluduha wa ‘Alamiyyatuha
  2. Shawariq al-Anwar min Ad‘iyat al-Sadah al-Akhyar
  3. Abwab al-Faraj
  4. Al-Mukhtar min Kalam al-Akhyar
  5. Al-Husun al-Mani‘ah
  6. Mukhtasar Shawariq al-Anwar.

  • Lain-lain:
  1. Fi Rihab al-Bayt al-Haram (Sejarah Makkah)
  2. Al-Mustashriqun Bayn al-Insaf wa al-‘Asabiyyah (Kajian Berkaitan Orientalis)
  3. Nazrat al-Islam ila al-Riyadah (Sukan dalam Islam)
  4. Al-Qudwah al-Hasanah fi Manhaj al-Da‘wah ila Allah (Teknik Dawah)
  5. Ma La ‘Aynun Ra’at (Butiran Syurga)
  6. Nizam al-Usrah fi al-Islam (Peraturan Keluarga Islam)
  7. Al-Muslimun Bayn al-Waqi‘ wa al-Tajribah (Muslimun, Antara Realiti dan Pengalaman)
  8. Kashf al-Ghumma (Ganjaran Membantu Muslimin)
  9. Al-Dawah al-Islahiyyah (Dakwah Pembaharuan)
  10. Fi Sabil al-Huda wa al-Rashad (Koleksi Ucapan)
  11. Sharaf al-Ummah al-Islamiyyah (Kemulian Ummah Islamiyyah)
  12. Usul al-Tarbiyah al-Nabawiyyah (Metodologi Pendidikan Nabawi)
  13. Nur al-Nibras fi Asanid al-Jadd al-Sayyid Abbas (Kumpulan Ijazah Datuk beliau, As-Sayyid Abbas)
  14. Al-‘Uqud al-Lu’luiyyah fi al-Asanid al-Alawiyyah (Kumpulan Ijazah Bapa beliau, As-Sayyid Alawi)
  15. Al-Tali‘ al-Sa‘id al-Muntakhab min al-Musalsalat wa al-Asanid (Kumpulan Ijazah)
  16. Al-‘Iqd al-Farid al-Mukhtasar min al-Athbah wa al-Asanid (Kumpulan Ijazah).

Catatan diatas adalah kitab As-Sayyid Muhammad yang telah dihasilkan dan diterbitkan. Terdapat banyak lagi kitab yang tidak disebutkan dan juga yang belum dicetak. Kita juga tidak menyebutkan berapa banyak karya tulis yang telah dikaji, dan diterbitkan untuk pertama kali, dengan ta’liq (catatan kaki) dan komentar dari As-Sayyid Muhammad. Secara keseluruhannya, sumbangan As-Sayyid Muhammad amat agung. Banyak hasil kerja As-Sayyid Muhammad telah diterjemahkan ke berbagai bahasa.

Mafahim Yujibu an-Tusahhah (Konsep-konsep yang perlu diluruskan) adalah salah satu kitab karya Sayyid Muhammad. Inilah seorang manusia yang menantang rekan-rekan senegaranya, kaum Salafi-Wahhabi, dan membuktikan kesalahan doktrin-doktrin mereka dengan menggunakan sumber-sumber dalil mereka.

Untuk keberanian intelektualnya ini, Sayyid Muhammad dikucilkan dan dituduh sebagai “seorang yang sesat”. Beliau pun dicekal dari kedudukannya sebagai pengajar di Haram (yaitu di Masjidil Haram, Makkah). Kitab-kitab karya beliau dilarang, bahkan kedudukan beliau sebagai professor di Umm ul-Qura pun dicabut. Beliau ditangkap dan passport-nya ditahan. Namun, dalam menghadapi semua hal tersebut, Sayyid Muhammad sama sekali tidak menunjukkan kepahitan dan keluh kesah. Beliau tak pernah menggunakan akal dan intelektualitasnya dalam amarah, melainkan menyalurkannya untuk memperkuat orang lain dengan ilmu (pengetahuan) dan tasawwuf.

Pada akhir hayatnya yang berkenaan dengan adanya kejadian teroris di Saudi Arabia, beliau mendapatkan undangan dari ketua umum Masjidil Haram Syeikh Sholeh bin Abdurahman Alhushen untuk mengikuti “Hiwar Fikri” di Makkah yang diadakan pada tg 5 sd 9 Dhul Q’idah 1424 H dengan judul “Al-qhuluw wal I’tidal Ruya Manhajiyyah Syamilah”, di sana beliau mendapat kehormatan untuk mengeluarkan pendapatnya tentang thatarruf atau yang lebih poluler disebut ajaran yang beraliran fundamentalists atau extremist. Dan dari sana beliau telah meluncurkan sebuah buku yang sangat popular dikalangan masyarakat Saudi yang berjudul “Alqhuluw Dairah Fil Irhab Wa Ifsad Almujtama”. Dari situ, mulailah pandangan dan pemikiran beliau tentang da’wah selalu mendapat sambutan dan penghargaan masyarakat luas.

Pada tanggal 11/11/1424 H, beliau mendapat kesempatan untuk memberikan ceramah di hadapan wakil raja Amir Abdullah bin Abdul Aziz yang isinya beliau selalu menggaris-bawahi akan usaha menyatukan suara ulama dan menjalin persatuan dan kesatuan da’wah.

Beliau wafat hari jumat tanggal 15 ramadhan 1425 H dan dimakamkan di pemakaman Al-Ma’la disamping kuburan istri Rasulullah SAW, Sayyidah Khadijah binti Khuwailid ra. Dan yang menyaksikan penguburan beliau seluruh umat muslimin yang berada di Makkah pada saat itu termasuk para pejabat, ulama, para santri yang datang dari seluruh pelosok negeri, baik dari luar Makkah atau dari luar negeri.

Semuanya menyaksikan hari terakhir beliau sebelum disemayamkan, semua menyaksikan janazah beliau setelah disembahyangkan di Masjidil Haram ba’da sholat isya yang dihadiri oleh tidak kurang dari sejuta manusia. Begitu pula selama tiga hari tiga malam rumahnya terbuka bagi ribuan orang yang ingin mengucapkan belasungkawa dan melakukan `Aza’. Dan di hari terakhir `Aza, wakil Raja Saudi, Amir Abdullah bin Abdul Aziz dan Amir Sultan datang ke rumah beliau untuk memberikan sambutan belasungkawa dan mengucapkan selamat tinggal kepada pemimpin agama yang tidak bisa dilupakan umat.

FacebookZ